Menjawab Kebutuhan Pakaian Olahraga untuk Generasi Milenial

Berlari alias joging adalah olahraga paling mudah dan dapat dilakukan oleh semua orang untuk menjaga kebugaran badan. Selain mudah, secara sekilas joging juga murah karena tidak membutuhkan peralatan khusus.

Tidak seperti bersepeda yang membutuhkan peralatan yang relatif lebih mahal, joging tetap bisa dilakukan meski tanpa mengenakan sepatu. Orang sah-sah saja berlari tanpa sepatu, bahkan tanpa baju pun orang masih bisa berlari.

Namun ketika joging dianggap sebagai bagian dari gaya hidup, semua itu berubah. Berlari kini bukan sekadar olahraga untuk mencari keringat.

"Kita lebih mementingkan gaya dalam berlari. Jalan adalah sebuah catwalk sebagai tempat aktualisasi diri supaya orang lain tertarik dengan kegiatan lari," ujar Youmi, aktivis lari dari Indo Runners dalam acara Sarah Sechan di televisi .NET.

Gaya adalah seni untuk tampil menarik yang memang membutuhkan barang-barang berharga tidak murah. Joging kini telah bersalin rupa dari sebuah olahraga untuk membakar kalori dengan biaya yang murah, menjadi model runway bagi orang-orang yang ingin tampil bergaya.

Dulu orang yang sedang berlari akan dinilai dari kecepatan dan ketahanannya. Kini orang menggunakan lari sebagai ajang pamer perlengkapan joging dari ujung kepala hingga ujung kaki yang harganya tidak murah.

Di toko-toko daring dengan mudah kita menemukan sepatu-sepatu khusus joging yang diciptakan demi kenyamanan pemakainya. Kaus kakinya pun disediakan khusus. Konon kaus kaki ini berpori sehingga bisa dengan mudah menguapkan keringat.

Perlengkapan kaus dan celana pun dibuat khusus. Selain menyerap keringat dengan mudah, bahan kaus dan celana lari juga memiliki teknologi tenun yang canggih. Lihatlah para perempuan dan lelaki yang joging selama car free day di jalanan Jakarta. Tidak sedikit perempuan yang menggunakan bawahan semacam legging yang superketat membungkus kaki.

Tak lupa mereka juga menggunakan topi khusus bagi pelari. Sementara itu selama mereka joging, musik pengiring yang dialirkan lewat ponsel cerdas terus bersuara di telinga. Bahkan tempo musik bisa berubah selaras dengan kecepatan langkah kaki penggunanya.

Setelah berlari, kemudian mereka berbagi data jarak dan kecepatan yang telah mereka raih ke media sosial seperti Path, Instagram, Facebook, atau Twitter. Tak lupa swafoto juga diunggah sekadar untuk menampilkan kegembiraan mereka usai jogging, sebuah olahraga termurah yang berubah menjadi mahal karena gaya.

Ada biaya untuk berlari dengan gaya

Berlari terasa kurang lengkap jika Anda tidak menggunakan sepatu khusus untuk lari. Dari sepatu buatan lokal hingga sepatu mutakhir buatan luar negeri, semua bisa didapatkan di toko-toko.

Sepatu buatan lokal misalnya adalah Specs Tambora yang terbuat dari material kulit sintetis yang bepori dan jala yang berlubang sebagai saluran udara. Sole-nya yang ringan terasa nyaman saat digunakan. Harga di situs resminya sekitar Rp330.000.

Sementara itu bagi yang ingin lebih bergaya, ada banyak sekali pilihan sepatu yang ditawarkan. Mulai dari Mizuno Tornado 9, Puma Ignite Ultimate, New Balance Vazee Pace Protect Pack, Nike Free 5.0, Head Under Armour Speed Form Apollo, Adidas Supernova Sequence Boost 8, Adidas Boost ESM, dan lain-lain. Masing-masing sepatu dari jenama ternama ini mengunggulkan teknologi terbaik mereka.

Ada sepatu yang mengunggulkan bobotnya yang ringan sehingga nyaman untuk berlari. Ada pula merek yang membanggakan bahan pembuat sol yang konon bisa membuat pemakainya memantul ketika kakinya mendarat di lintasan lari sehingga memberikan energi besar untuk terus berlari.

Selain itu ada juga sepatu yang bisa melindungi pemakainya dari cuaca dingin. Ada harga, ada rupa dan ada gaya. Sepatu-sepatu khusus lari dari merek ternama tentu harganya mahal, di atas Rp1 juta rupiah.

Padahal, seperti pernah diulas di Beritagar.id, sepatu berharga mahal belum tentu berkualitas. Sepatu lari mahal tak selalu bagus. Malah seringkali lebih buruk kualitasnya dari yang murah.

Demikian hasil survei yang digelar situs RunRepeat selama satu tahun. Ada 134.867 orang dengan 391 jenis sepatu lari dari 24 merk yang jadi sampel survei ini.

"Jika uang merupakan isu tersendiri bagi Anda, ketahuilah sepatu lari yang mahal tidak menguntungkan bagi Anda," ujar penemu situs Jens Jakob Andersen kepada Washington Post. Andersen menyarankan Anda memilih sepatu dengan harga sedang.

Survei RunRepeat menunjukkan 10 sepatu lari termahal, rata-rata dibanderol USD181 per pasang (sekitar Rp2,4 juta) dinilai 8,1 persen lebih rendah dari 10 sepatu lari yang lebih murah, dengan harga rata-rata USD61 (sekitar Rp795 ribu).

Dr Michael Triangto, SpKO dari RS Mitra Kemayoran, menyarankan agar saat memilih sepatu lari, seharusnya setiap orang mencocokkan sepatu dengan varian kakinya masing-masing.

"Sekarang ini banyak orang yang beli sepatu karena banyak dipakai atlet cabang olahraga tertentu. Tapi bisa saja semua atlet pakai sepatu tersebut karena dibayar sponsor tapi kemudian banyak yang cedera," ujar Michael kepada DetikHealth.

Dia menambahkan, jika sepatu yang dijajal terasa enak dan nyaman maka itu sebaiknya yang dipilih. Sebaliknya, jika terasa sakit saat dipakai, sebaiknya dihentikan pemakaiannya.

Selain sepatu yang keren, kaos para pelari zaman sekarang pun penuh gaya. Pakaian lari dengan teknologi drifit atau kaus yang dengan mudah menyerap keringat, celana, dan sportsbra. Merek yang berkualitas baik tidak akan longgar atau mengerut setelah tiga kali pemakaian.

Selain itu ada pula pelari yang merasa membutuhkan pakaian compression yang terdiri dari berbagai macam, mulai dari kaos kaki, sleeve untuk betis, celana pendek pria sebatas paha, celana panjang sampai mata kaki, bahkan full body suit yang menyerupai pakaian selam.

Pakaian lari ini menawarkan konsep medis yang sudah terbukti sejak lama: pakaian yang ketat dapat membantu peredaran darah dan limfatik (getah bening).

Pakaian compression yang ketat ternyata membantu darah dan oksigen untuk mengalir lebih banyak ke area otot yang terbungkus oleh compression dan mengakomodasi pembuangan hasil kinerja otot.

Sepatu lari mahal tak selalu bagus. Malah seringkali lebih buruk kualitasnya dari yang murah.

Bantuan terhadap proses kinerja otot ini meningkatkan kapasitas otot untuk memproduksi energi dan mendukung pelari untuk berlari secara lebih efisien. Riset yang dilakukan di University of Newcastle menemukan bahwa pakaian compression untuk tubuh bagian bawah meningkatkan aliran darah dan menurunkan detak jantung saat sesi lari jarak jauh intensitas tinggi - mendukung teori bahwa kaos kaki compression membantu performa.

Harga celana legging Under Armour khusus untuk lari berkisar antara USD29,24 (Rp380 ribu) sampai USD64,99 (sekitar Rp847 ribu) per helai. Sementara itu pakaian khusus lari dari Nike yang dijual di situs Blibli.com merentang antara Rp170 ribu hingga Rp720 ribu per helai.

Source:https://lokadata.id/artikel/siapa-bilang-lari-itu-olahraga-murah